Make your own free website on Tripod.com
 

Catatan Perjalanan

Profil     Lautan Cinta      Catatan Perjalanan      Galeri      Artikel     Dokter ABG     Buku Tamu 

 

Profil

Lautan Cinta
Kata Cinta
Mimpi Cinta

Catatan Perjalanan
Kenapa Riss....??
Aku dan Aba
Hana
Nurani

Galeri
Ekspresi
Kata Hati
* Untaian 1
* Untaian 2
* Untaian 3


Artikel
Awal Yang Fantastik
Perjalanan Awal Kehidupan
Pertumbuhan Sel Sperma
Pertumbuhan Sel Telur
Biarkan Mereka Hidup
Fakta Seputar Aborsi

Dokter ABG

Buku Tamu

 

AKU DAN ABA

 

        "Sudah lupa khan sama Aba ?, baru datang sekarang", Aba merajuk. "Ma'af Ba....sibuk nih...jadi baru sempet datang, Aba sehat khan ?, bekas operasi nya masih sakit ?", Aba memperlihatkan bekas operasi pada perutnya yang masih tampak merah dan menjelaskan gerakan-gerakan tubuh yang bagaimana yang membuat bekas operasi nya itu terasa sakit.

        "Pak permisi.....ini pisang apa khan ?", seorang Bapak Tua yang sedang asik membersihkan rumpun pohon pisang langsung menghentikan pekerjaannya, melihatku lalu tersenyum. "Ini pisang ambon de", "wahh....kebetulan saya suka sekali pisang itu, boleh minta bibitnya Pak ?, mau saya tanam di tempat kost". "Haahh....?! ade bisa tanam ini ?", Bapak itu tampak keheranan, aku tersenyum dan mengangguk mantap, dengan cekatan Beliau pilihkan bibit yang kelihatan pantas lalu mulai menggalinya.

        Awal perkenalanku dengan Aba, seorang Bapak Tua berusia -+ 60 tahun, penjaga fak hukum di universitasku. Sebelumnya aku sering melihatnya kalau kebetulan mengambil jalan pintas ke fakultasku yang memang terasa dekat kalau lewat fak hukum itu. Aba artinya Bapak, panggilan lain untuk Bapak di daerah ini dan Beliau lebih suka di panggil begitu. Aku senang mengunjunginya, mendengar cerita-ceritanya, terutama cerita saat Beliau masih muda yang katanya cukup nakal dan pernah jadi preman, tapi katanya walau begitu Ia tetap menghormati dan menghargai wanita, tidak berani mempermainkannya, salut aku pada Aba. Pengalamannya yang kaya dan penuh filosofi hidup kujadikan sebagai referensi hidupku. Beliau ku anggap sebagai Kakek, Bapak, teman dan sahabatku. Sudah tiga semester persahabatanku dengan Aba, kalau ada waktu luang aku sengaja mengunjunginya tapi kalau aku sibuk kadang sampai berminggu-minggu aku tidak dapat datang ke tempatnya.

        Seperti orang yang sudah tua pada umumnya, perawakannya ringkih, jalannya tertatih dan perlahan, wajahnya tirus tetapi terlihat cerah sepertinya terpancar semangat hidup yang kuat disana. Aba yang masih setia dengan tugasnya, menaikkan dan menurunkan bendera, memeriksa ruang-ruang kuliah, menguncinya yang kemudian di buka kembali keesokan paginya. Aba yang hidup sendiri karena tidak mempunyai anak dan istri. Aba yang masih bersemangat menambah penghasilannya dengan membuka kios kecil bahkan boleh di bilang super kecil karena di situ hanya tersedia beberapa slop rokok, tiga toples permen, beberapa bungkus roti, satu lusin tissue, satu pak amplop dan beberapa batang pulpen. "Aba sihh pingin nambah dagangan In, cuma modalnya....", nada bicara Aba seperti menggantung. "kalau pinjam di bank Aba nggak kuat bunganya", aku masih ingat tanggapannya ketika aku menyinggung tentang keberadaan barang dagangannya. "Kenapa Aba masih harus jualan seperti ini ?, Aba khan cuma sendiri ?", Aba memandangku, lalu menjawab dengan ekspresi yang sulit kujelaskan, "Aba memang sendiri, tapi Aba khan hidup, orang hidup itu butuh biaya", singkat saja Aba menjawab tapi bagiku jawabannya bermakna amat dalam.  "Aba khan punya gaji lanjutku, "gaji itu hanya cukup sampai setengah bulan, dan setengah bulan berikutnya Aba mencarinya dengan seperti ini", jawab Aba sambil menunjuk barang dagangannya,  aku termangu, luruh pada suatu rasa yang saat itu, hanya aku saja yang dapat mengerti.

        *****

        "In...Aba habis kecurian". "Aba ?!", aku menatapnya tak percaya. "Beberapa slop rokok dan uang modal di ambil", Aba meneruskan. "Aba sudah tahu pelakunya kok, pemabuk-pemabuk itu nggak jauh dari sini". "Aba yakin ?", tanyaku hati-hati, Aba mengangguk, "barang buktinya Aba lihat di tempat mereka". "Tega sekali mereka, Aba nggak coba minta lagi sama mereka ?", Aba menggeleng. "Nggak usah In, lagipula susah karena tidak ada saksi, biar saja, mudah-mudahan bisa bermanfaat buat mereka". Salut aku pada Aba, ditengah musibah yang dialaminya masih bisa sabar dan ikhlas, benar-benar 'orang kecil' yang berjiwa besar.

        Dua minggu sudah aku tidak mengunjungi Aba, kunjungan terakhirku Aba sakit, tapi mudah-mudahan sekarang sudah sembuh dan sehat harapku. Kedatanganku kali ini hatiku lebih riang karena besok aku ulang tahun, aku ingin Aba mengetahuinya dan mudah-mudahan Beliau bisa datang karena aku mengadakan syukuran kecil-kecilan. Tapi saat tiba disana pintu terkunci, tidak seperti biasanya...., aku heran, kemudian kutanya  anak-anak Mapala di ruangan lain,  yang tak jauh dari ruangannya. "Permisi....Aba ada ?", "Aba ?! jawab mereka serempak, "iya Aba" lanjutku meyakinkan, mereka terlihat kaku dan tegang mendengar pertanyaanku. NEXT

Kenapa Ris.....??

Aku dan Aba

Hana

Nurani

       HOME         BACK

           

Sebuah tong yang penuh dengan pengetahuan belum tentu sama nilainya dengan setetes budi (Phytagoras)